11 October 2010

Mobil Rental pun Jadi Sasaran Pulang Kampung

SETELAH melaporkan via SMS angkutan umum dari Medan ke Sibolga sangat padat dan antrean juga panjang sampai ada daftar tunggu, Amir Pasaribu (41 tahun) pun gelisah. Demikian juga angkutan umum dari Sibolga untuk ke Kampungnya Muara Bolak di Barus juga susah.
Amir makin gelisah. Meallui SMS dia mengirimkan pesan singkat, apa pun yang bisa dilakukan, lakukanlah, agar bisa sampai di kampung halaman tepat waktu.
Amir sudah sepuluh tahun tak pulang kampung dari perantauannya di Jawa sana. Setelah menikah, kemudian punya anak, dia didesak isterinya untjuk pulang ke kampung hal;amannya di Muara Bolak Barus Tapanuli Tengah. Sang isteri ingin ketemu dengan ibu dan bapak mertuanya yang sepuluh tahun pernikahan, belum dia kenal.

Hari baik bulan baik di hari raya idulfitri, niat sekian tahun dipendam akhirnya kesampaaian juga. Tidak tanggung-tanggung. Amir Pasaribu, memboyong seorang istri dan dua anaknya serta ibu mertuanya. Agar sesama besan saling mengenal. Kebetulan bapak mertua Amir, baru beberapa bulan meninggal dunia, jadi tak bisa ikut serta.
Sepuluh tahun, bukan waktu yang singkat. Merantau ke Pekalongan, kemudian bekerja serabutan beberapa lama, baru mendapat kesempatan jadi buruh di gudang batik, kemudian jadi pedagang batik kecil-kecilan dan berkembang.

Kemudian Amir Pasaribu jatuh cinta pada putri Jawa Tengah dan menikah. Seorang anaknya yang sulung seorang putri berusia 7 tahun dan putra keduanya berusia 4 tahun.
Dua orang rekan sepermainan masa remaja di kampung, dihubunginya via SMS di Medan demikian juga beberapa orang teman sekolahnya di SMA waktu di Sibolga dihubungi juga. Tetap mengatakan suli mendapatkan angkutan umum dan harus antri, sementara lebaran tinggal dua hari lagi.
Info Rental Mobil Medan disini ... HORAS !!! tulisan ini di copy dari analisadaily.com
Dengan agak terbata Amir pun menelpon rekannya yang ada di Medan agar berupaya keras berupaya, bagaimana caranya bisa mendapatkan angkutan sampai ke kampung halaman.
Kedua rekan Amir di Medan mengambil kesimpulan untuk mencarter mobil Toyota Avanza. Kedua rekan Amir pun mengeluh, karena biaya carteran mobil harganya naik hampir seratus persen. Alasan pemilik mobil carteran alias rental, semua mobil sudah dibawa orang ke kampung halaman para penyarter.

Setelah berjuang keras, akhirnya ada mobil rekan mereka dari lapangan terbang Polonia. Mobilnya tidak berapa bagus, sebuah mobil Suzuki APV buatan tahun 2006 warna teh susu. Tanpa basa basi lagi, mobil itu pun dicarter dengan harga tinggi, untuk empat hari perjalanan pulang pergi.
Kendala kedua muncul. Siapa supir yang akan membawanya? Bayar supir lagikah? Untuk tek-tekan (masing-masing mengeluarkan biaya dari kantong masing-masing) untuk membantu seorang teman, sudah berat. Untjk empat hari, lepas kunci harus bayar Rp. 3 juta.

Amir Pasaribu pun dihubungi kembali via SMS. Tak menjawab. Amir dan keluarganya sudah berada di atas pesawat yang terbang di awan-awan yang tinggi dan biru. Rekan Amir di Medan pun terus berembug. Akhirnya dapat kesepakatan, seorang rekan mereka, seorang redaktur sebuah surat kabar, siap pulang kampung dan siap membawa mobil itu.
Pesawat merk Singa itu pun mendarat mulus di landasan pacu Polonia Medan. Kelihatan Amir Pasaribu menuntun putrinya. Isterinya membimbing mertua Amir dan putra mereka membawa tas. Betap ahru birunya Amir Pasaribu dan rekannya yang menunggu di Medan menyambut Amir dan keluarga yang sudah sepuluh tahun tak diketahui merantau entah kemana.

Mereka istirahat sejenak, karena mertyua dan isteri Amir mabuk udara. Muntah-muntah, terlebih wajah mereka sempat pasi di goyang pesawat di udara pada awan tebal. Brlima mereka untuk pertama kalinya naik pesawat terbang. Amir ketika pergi merantau, naik bus PMTT dari Sibolga ke Jambi. Dari Jambi sambung naik bus Lorena ke Jakarta. Tioga hari di Jakarta bertemu teman dan mengajak terus ke Pekalongan. Di Pekalonganlah Amir sempat terlunta-lunta selama 12 hari. Untung ada seseorang yang belum mereka kenal menawarkan pekerjaan jadi kuli angkut di gudang batik. Amir langsung menrima.
Amir sempat menjual jam tangannya, untuk bisa makan kenyang, karena pekerjaan angkut barang, membutuhkan energi yang banyak.
Dalam perjalanan via Tanah Karo, Dairi, Humbang dan terus ke Pakkat, sepanjang jalan Amir bercerita tentang perjuangannya di perantauannya. Sementara isterinya Sulastri, -katanya tahun depan akan diadati dan dibuatkan jadi bosu Simatupang- terus tertidur karena masih merasa pening dan mual.
Mereka harus mengambil jalan pintas yang cepat. Pulangnya baru dari Parapat, agar sempat ke Tomok untuk melihat keindahan Danau Toba.

Isak Tangis
Tengah malam pukul 23.12 WIB mobil rental itu pun tiba persis di depan rumah Amir. Ibunda Amir dan beberapa anaknya sengaja menungu kedatangan. Ibu Amir [pun segera menghambur ke luar rumah dan berteriak:
"Mana sutcu-ku. (maksudnya cucu-ku, dalam dialek setempat)," kata ibu Amir.
"Salamlah dulu, Mak. Terus cucu yang dicari, bukan aku yang disalami," Amir sedikit kesal, sepuluh tahun merantau, tapi merasa tidak dirindukan.
"Ah... kalau kau dari Ketcil sudah kukenal," kata sang ibu. Sang ibu pun menebak cucunya.

"Kau kah yang bernama si Ronggur?" tanya sang ibu. Putra sulung Amir pun mengangguk. Langsung sang ibu memeluknya dan menangis dan menggendong pahompu panggoaran (cucu sebagai pengganti nama kebesaran namanya) ke dalam rumah. Sang cucu dielus-elus, sampai lupa menyalami besan yang datang dan menantunya serta anaknya dan seorang putri mungil yang juga adalah cucunya.

Setelah semua bersalaman, sang nenekpun merepet di malam takbuiran itu.
"Jangan seperti bapakmu kau ya. Merantau sekian lama tidak memberi kabar kepada ompung," katanya pada cucunya. Lalu sambungnya pula; "memang bapakmu itu kurang ajar. Taktau dia aku merindukannya selama ini."
Besannya pun bingung, kenapa harus merepet-repet di malam baik hari baik itu. Dia tak mengerti, kalau begitulah sifat orang Batak menyampaikan rasa kebesaran dan kebanggan hatinya.
Tak lama nasi mengepul pun dihidangkan, dengan lauk pauk ikan arsik. Seusai makan, terhidang pula lompong sagu yang sudah disiapkan sejak sore dan dipanggang, begitu mereka sampai.
Usai sembahyang Ied, mereka pun berziarah ke makan ayah Amir. Silaturrahim pun berjalan dengan baik.
"Nanti kalau kau pulang, bilang sama bapakmu ya, agar motor kelian ini ditinggalkan saja untuk ompung," kata sang ibu pada cucunya. Cucu pun kebingungan, kareabn mereka datang tidak naik motor (sepeda motor) tapi naik mobil.
"Kami tidak naik motor, ompung," kata sang cucu. Si ompung pun menunjukkan mobil yang mereka bawa.
"Oh... mobil itu? Itu kan di carter?" kata si cucu bijak.
"Mau sarter, mau apa pun itu, tingalkanlah untuk ompung itu," tambahnya pula, membuat semua yang hadir terkekeh-kekeh. Sang ompung memang begitu. Mengatakan Camat, diucapkan Samat. Kecap jadi kessap.
Perjuangan untuk pulang kampung bagi Amir memang sangat berat. Sepuluh tahun dia Menabung untuk bisa pulang kampung membawa anak, isteri dan ibu mertuanya.
Semua kepahitan dalam perantauan dan masa kecilnya, berubah seketika menjadi indah dan nikmat. Isterinya yang muallaf itu pun, cepat membaur di desa suaminya. Sang isteri dapat menikmati suasana desa dan menikmati keramah-tamahan warga desa terhadapnya. Sebuah desa pembauran yang kental akan adat istiadat. Di desa itulah isteri Amir menikmati makanan khas desa itu. Lemang, alamai (dodol), lompong sagu, pale badar dan sebagainya.
Info : Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia